Bau
Ayu Utami
Pada tahun 2000, ketegangan antar etnis yang terjadi di Kalimantan memuncak dengan penduduk asli Dayak menyembelih pendatang Madura secara massal. Konon, dalam perburuan demikian suku asli ini memperoleh kekuatan gaib nenek-moyang, yang hanya digunakan di masa perang, yaitu yang memungkinkan mereka mengendus bau musuh. Dengan cara begini mereka membedakan suku lawan dari pendatang yang lain. Pastor Janoko, yang ditugaskan Gereja untuk meneliti perkara itu, kembali dengan laporan-laporan tentang pendekar Dayak yang menghentikan sebuah truk berisi rombongan manusia atau yang menyerbu sebuah desa. Para pendekar itu menyuruh seluruh penumpang atau penghuni berkumpul, lalu dengan pengendusan mereka memisahkan secara tepat yang berdarah Madura dari yang tidak. Mereka bisa menghidu darah. Itulah yang paling menakutkan dalam kisah-kisah perang suku ini.
Misionaris Katolik telah masuk ke pedalaman Kalimantan sejak dua abad lalu. Dan sebagian dari orang Dayak yang menghidu musuh telah dibaptis.
*
Pastor Janoko sedang menyelesaikan laporan yang getir dari perjalanannya ke wilayah pembantaian ketika seorang umat mengetuk pintu hatinya dan memohon agar ia memberkati peternakan ayamnya yang terserang hama. Tiga ribu dari tujuh ribu ekor ayamnya mati mendadak dalam sehari. Pengusaha yang beragama Katolik itu tahu bahwa jika tidak ada usaha penyelamatan niscaya seluruh ayamnya mati dalam tiga hari dan tak ada yang bisa menebus mereka. Ia adalah generasi Katolik yang ketiga dan mulai sejak orang tuanya keluarga itu tak lagi percaya kepada dukun. Ia percaya kepada pastor. Atau, tepatnya, ia berharap kepada pastor.
Di tengah galaunya Pastor Janoko tahu bahwa ia adalah seorang gembala dan pengusaha yang malang itu dombanya. Namun di pulau agraris yang padat penduduk ini hanya ada sedikit padang gembala dan lebih banyak orang memelihara unggas ketimbang domba. Maka ia tahu bahwa ia adalah peternak, dan pengusaha itu ayamnya yang sakit. Demikianlah kegundahan pengusaha ayam itu ia turut alami dengan sesungguhnya.
Pastor Janoko meninggalkan laporannya dan pergi ke peternakan. Ia memercikkan air suci ke kandang-kandang dan berdoa—atau barangkali berharap—agar Tuhan masih sempat menyelamatkan ayam-ayam tersebut.
Sepulang ke rumah ia merenung sebelum kembali kepada laporannya yang getir. Dalam sejarah Gereja, rasanya belum pernah ada mukjizat diturunkan kepada ayam-ayam. Tetapi seandainya hari ini tangan Tuhan melakukan keajaiban kepada ayam-ayam itu, betapa tidak adilnya. Tuhan telah tidak menyelamatkan orang Madura.
*
Tujuh hari setelah memberkati peternakan yang terjangkit hama itu Pastor Janoko terserang demam tinggi. Dua per tiga ayam yang ia doakan telah mati pula. Demikian Tuhan tidak menganakemaskan ayam-ayam daripada orang-orang Madura yang dibantai yang laporan tentangnya sedang ia kerjakan. Di tengah demam tingginya ia terus menulis. Ia menulis seperti orang yang takut mati sebelum menuntaskan mahakarya. Sebelum kelak dokter menemukan radang yang mencurigakan di kepalanya, ia telah menyelesaikan laporan itu. Kelak, orang mengaitkan radang otak yang aneh itu dengan virus burung yang bermula di Asia dan kian ganas berjangkit, yang barangkali menulari dia ketika dia memberkati ayam-ayam. Laporannya tidak begitu dimengerti oleh atasannya. Laporan itu dianggap kacau dan tidak koheren.
*
Demikianlah ia membacakan laporan itu, jika bisa disebut sebagai laporan:
Sidang yang terhormat,
Daripada melaporkan angka-angka tentang yang disembelih maupun yang menyembelih, lebih baik saya mengajukan kesimpulan sendiri. Bukannya saya tak tahu cara membuat laporan obyektif, tetapi statistik, yaitu pretensi obyektif itu sendiri, selalu tergelincir menjadi reduksi atas manusia kepada sekadar data grafis yang disertai marjin eror.
(Catatan: marjin error! Itulah persoalan saya. Ia ditulis paling kecil dan diletakkan di sudut paling tersembunyi dalam sebuah presentasi statistik, tetapi ia sesungguhnya yang paling genting dari statistik itu. Batas eror itu. Saya tidak percaya. Sebab eror tak punya batas. Percayalah!)
Setelah melakukan perjalanan ke wilayah konflik, saya ingin mengajukan kesimpulan yang berbentuk pertanyaan-pertanyaan retorik (saya amat menyukai para filsuf Yunani, yang selalu bertanya-jawab. Lagi pula, tidakkah Tuhan kita demikian pula: selalu bertanya demi mengajukan jawaban).
Tidakkah persoalan kita masa ini adalah hilangnya kepercayaan manusia akan nama-nama? Nama membuat manusia menjadi individu dan bukan lagi sekadar anasir. Tapi, belakangan ini manusia lebih senang menjadi dan menjadikan orang lain Dayak atau Madura, Islam atau Kristen, Timur atau Barat, ketimbang menjadi Fachmi, Wahyu, Andres, ataupun Andan. Manusia lebih senang menjadi massa ketimbang dirinya.
Sebetulnya, kesukaan menjadi massa ketimbang individu itulah yang oleh pemerintah Orde Baru disebut sebagai kecenderungan SARA: Suku, Agama, Ras, Antar Golongan. Atau, dalam bahasa Inggrisnya adalah ERROR. ERROR: Ethnicism, Racism, ReligiOnism, and Inter-gRoup-ism. ERROR! Itulah kecenderungan irasional laten manusia—seperti dalam jargon Orde Baru yang ternyata mengandung kebenaran, betapapun kita tidak suka. Kita tidak suka Orde Baru, tapi ia mengandung kebenaran juga.
Orde Baru melarang segala bentuk error, erroris, dan errorisme. Orde Baru menganiaya dan memenjarakan banyak orang atas tuduhan error, erroris, dan errorisme. Telah bertahun-tahun Orde Baru menangkap orang pada malam maupun siang, menyekap mereka tanpa surat penahanan, tanpa tuduhan yang jelas selain error, erroris, dan errorisme.
Tetapi, setelah bertahun-tahun Orde Baru melakukan praktik keamanan seperti itu, sungguhkah keberhasilannya bisa diukur?
Tentu tidak. Sebab errorisme bukanlah gejala-luar diri manusia yang bisa dipolitisir. Rasisme, etnisisme, sektarianisme, dan segala jenis errorisme bukanlah persoalan ideologis, melainkan biologis. Bukan merupakan perkara kepercayaan, melainkan—percaya atau tidak—adalah persoalan bau. Ya, bau!
Dalam perjalanan saya ke wilayah konflik, saya menyaksikan dengan mata dan telinga, kesaksian dari pihak korban maupun pelaku, bahwa dalam perburuan trans itu orang Dayak bisa mengenali orang Madura dari suku lain dengan mengendus bau mereka. Ya, bau!
Memang ada persoalan ketidakadilan yang panjang sebelumnya. Orang-orang asli mengaku diperlakukan sewenang-wenang. Tapi, bukan masalah ketidakadilan yang menarik, melainkan masalah bau. Bau, sidang pembaca yang terhormat, adalah hal yang tak kita sadari tapi sesungguhnya menentukan perilaku kita. Saya tak bermaksud untuk ikut-ikut menjadi rasis, tetapi… tidakkah bau tubuh kita berbeda satu sama lain, sebagaimana bau tubuh ras dan etnis yang satu berbeda dari yang lain? Ini barangkali politically incorrect. Tapi, jika kita mau jujur…hmm, tidakkah orang Arab memang berbau lain daripada kita? Mereka makan kambing, kambing, dan minum susu kambing dengan madu dan korma. Keringat mereka mengandung bau kambing dan lengket gula. Tidakkah keringat orang Cina mengandung aroma bawang putih dan lembab babi yang sedikit amis? Tidakkah keringat orang bule berbau asam keju yang busuk? Tidakkah orang Jawa berbau penguk, jika dibanding orang Sunda, sebab orang Sunda makan sayur segar dan pepesan, sementara makanan Jawa kelewat matang serta menggunakan santan kental? Dan orang Sunda yang makan ikan mas berbau lain dari yang tidak, sebab ikan mas itu makan tinja manusia. Begitupula orang India: keringat mereka sama pekat dengan kari mereka! Mereka menulis dan berbicara sama medok dengan masakan mereka!
Saya berkata sejujurnya dengan apa ada di kepala saya.
(Ketika itu kepala Pastor Janoko sedang dijalari radang.)
Kita adalah apa yang kita makan. Ketika Tuhan berkata, seperti ditulis dalam Injil, bukan apa yang masuk ke dalam perutmu yang najis, sebab ia akan menjadi sekadar tinja, sesungguhnya Tuhan sedang mengajak kita agar tidak berperilaku rasis. Tapi, dalam ayat berikutnya ia berkata, yang najis adalah yang keluar dari mulutmu. Ingatlah—Tuhan memang tidak menyatakannya jelas-jelas—tapi, yang keluar dari mulut bukan cuma kata-kata kotor, melainkan juga nafas busuk. Bau! Tuhan biasa bicara dengan gaya pars pro toto, sebagian untuk semua. Ia bicara bau pada umumnya. Bau mulut dan bau pada umumnya.
Saya melihat dengan mata kepala sendiri, betapa orang Dayak mampu membedakan bau orang Madura dari suku-suku lain. Kita menyebutnya kekuatan gaib. Tetapi sesungguhnya itu adalah kekuatan alamiah belaka. Bau adalah lapisan yang paling purba dari sikap rasis dan sektarian. Pengalaman ini membuat saya percaya pada sebuah penelitian mengenai sejenis tikus: mereka mengenali kelompok sendiri dan kelompok lain berdasarkan bau.
Pertanyaannya: kapan kepurbaan itu muncul kembali?
Perkenanlah saya menjawab. Sebab pertanyaan adalah alasan untuk mengajukan jawaban.
Jawabnya: ketika nama-nama telah kehilangan alamat. Ya, ketika kata-kata telah tuna wisma. Bahasa menjadi gelandangan yang mencurigakan. Oh, nama-nama seperti ‘tuhan’, ‘malaikat’, ‘surga’ adalah nama-nama ilahi. Mereka tidak datang dari dunia ini—seperti firman Tuhan kita ‘kerajaanku bukan dari sini’—sehingga tak perlu punya alamat di dunia ini. Orang yang skeptis memang punya persoalan dengan mereka, tapi orang yang beriman tak menanyakan alamat mereka. Tapi, nama-nama seperti ‘rasionalitas’, ‘demokrasi’, ‘kemanusiaan’, ‘sosialisme’, ‘humanisme’, ‘emansipasi’, ‘hak asasi manusia’, ‘transmigrasi’, ‘NKRI’, adalah nama-nama yang datang dari bumi ini. Mereka dituntut untuk memiliki alamat dan nomer telepon, setidaknya seperti yang dituntut perusahaan jasa kurir untuk bisa mengirim paket. Tapi, sayangnya, mereka telah kehilangan alamat. Mereka telah pergi meninggalkan rumah, seperti anak yang hilang, namun tak bisa kembali, sebab masyarakat bukanlah bapa yang pemaaf. Pengembaraan telah mengubah mereka dan membuat mereka tak dikenali. Mereka telah tak berdomisili.
Bahasa menunjukkan bangsa, kata pepatah. Tidak, kataku. Bahasa mengatasi bau. Ketika bahasa tak mampu lagi mengatasi bau, maka bau mengatasi bahasa. Tidak ada posisi seri. Orang akan mengenalimu dari kata-katamu, atau dari bau mulutmu. Jika kata-katamu tak dipercaya, dari bau mulutmulah kamu diukur.
Rasionalitas diwakili oleh mata. Tapi naluri diwakili oleh penghidu. Sayangnya, saya harus jujur, Tuhan tidak bicara mengenai indra yang paling penting itu: penghidu. Alkitab berbicara mengenai orang yang buta matanya dan tuli hatinya. Atau kelu lidahnya. Tapi tak satu kitab pun bicara mengenai bau atau orang yang tak bisa menghidu. Tak ada mukjizat untuk menyembuhkan orang yang tak bisa mengendus. Alkitab tak punya deskripsi tentang bau. Padahal, wahai Teofilus yang budiman, bau adalah sumber kebencian terhadap yang lain. Bau adalah dasar dari ERRORisme. Ethnicism, Racism, ReligiOnism, and Inter-gRoup-ism. Hanya kita, bahkan agama, tak mau mengakuinya. Agama kita, yaitu monoteisme Abraham, tidak mau mengakui naluri. Karena itulah kitab suci tak pernah bicara perihal bau.
Karena itu, agama kita tidak berdaya ketika perang yang primitif terjadi dan orang-orang kembali kepada penciuman. Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa menjadi impoten ketika orang-orang kembali kepada bau.
Demikianlah, perjalanan saya ke wilayah konflik kali ini mengantar saya pada dua kesimpulan. Satu, saya harus jujur bahwa agama kita tidak mengakui bau, dan kenyataan ini menimbulkan persoalan ketika kita berhadapan dengan ERRORisme. Dua, kisah pengorbanan Ishak oleh Abraham, di mana Tuhan lalu mengganti Ishak dengan seekor domba, serta metafora Anak Domba Allah menunjukkan bahwa agama kita amat menghargai domba, tetapi tidak menghargai ayam.
*
Pada kata ayam Pastor Janoko terdiam. Tiba-tiba ia menyadari bahwa ia tak mengerti apa yang ia tuliskan sendiri. Ia seperti terbangun dari mimpi tentang pemikiran-pemikiran orisinil untuk menemukan bahwa tak satu rumusan pun dari mimpinya bisa ia fahami lagi. Sebuah perpindahan aneh, di mana yang sebelumnya logis kini menjadi tak logis lagi. Ada sisa-sisa potongan gambar. Dan bau yang samar. Hasil penyembelihan. Ayam-ayam sakit. Di depannya ia melihat sidang pendengar yang terdiam, memandang ia tak percaya, sedari tadi.
Sejak itu Pastor Janoko diberi istirahat panjang. Murid-muridnya bergunjing bahwa ia terkena error di kepalanya. Tak ada yang tahu apakah Pastor Janoko mengalami radang di otaknya karena ia menyaksikan pembantaian di mana para pembunuh mengenali musuh dari bau, atau karena virus unggas yang misterius. Tapi rekan dan umat awam diam-diam memaklumi, ia terkena sejenis radang otak yang aneh ketika menjalankan tugas panggilannya. Hal-hal menyedihkan memang kadang terjadi.
ARCHIVES of January , 2008
- Asia-Pacific Writers supports S.E.A.Write Festival 2012
- Review: Ora Nui 2012 Maori Literary Journal
- FEATURE FILM REVIEW: SKY WHISPERERS: RANGINUI
- Review: THE PARIHAKA WOMAN
- Cha “Encountering” Poetry Contest
- Writing Out of Asia
- ME’A KAI The Food and Flavours of the South Pacific
- WILFUL BLINDNESS - WHY WE IGNORE THE OBVIOUS AT OUR PERIL
- ME TE OTURU: RADIANT LIKE THE FULL MOON - A REVIEW ESSAY OF FIONA KIDMAN’S MEMOIRS.
- Good news for readers of Indonesian literature in translation!
- UEA Fellowship for creative writers living in South Asia
- MORE THAN 1.5 MILLION VISITORS
- Writing Across Cultures’ papers & provocations available online
- Memoir/ Fiction/ Travel Writing masterclasses with Beth Yahp
- Yuanxiang (Otherland Literary Journal) No. 13, 2011 now out
- REVIEW: WATER WHISPERERS TANGAROA
- Review: The World According to Monsanto
- SHAPESHIFTING PASSAGES
- ICPC Statement on the Passing of Zhang Jianhong
- REVIEW:TALANOA, TAFAKATATA, TAFAKALANU: TONGAN STORIES FROM THE PACIFIC
- REVIEW: ROUTES AND ROOTS: NAVIGATING CARIBBEAN AND PACIFIC ISLAND LITERATURES
- REVIEW: MY UROHS
- Review: FOOD FROM NORTHERN LAOS – THE BOAT LANDING COOKBOOK
- REVIEW: BETRAYAL, TRUST AND FORGIVENESS – A GUIDE TO EMOTIONAL HEALING AND SELF-RENEWAL
- ASM TO LAUNCH 13 NEW BOOKS ON SATURDAY DECEMBER 18
- Collected Works Bookshop, Melbourne
- National Novel Writing Month
- PEN All-India Statement on Rohinton Mistry Ban
- 独立中文笔会关于刘晓波荣!
- Dr. Liu Xiaobo, is awarded to the Nobel Peace Prize for 2010
- Oceanic Conference on Creativity and Climate Change - Oceans, Islands and Seas
- Kia Ora Book and DVD review
- 世界各地笔会等49团体就北京&#
- A Joint Statement on the Trial of Dr Liu Xiaobo
- *CALL FOR SHORT STORIES*
- Review: THE TROWENNA SEA
- WRITING ACROSS CULTURES
- Atlas of Unknowns, by Tania James
- GuideGecko Writing Contest
- `A LOVE FOR LIFE - SILENCE & HIV’
- SRI LANKA: Tamil journalist sentenced to twenty years imprisonment
- Peril’s Call for Submissions - Issue 8
- PEN International Magazine seeking contributions
- Asia Literary Review is calling for submissions
- Perfectly Frank
- Asia Literary Review
- Iran news in brief. July 22
- Sydney PEN condemns censorship attempt; congratulates Melbourne Film Festival
- Review: EARTH WHISPERERS PAPATUANUKU: AN EMPOWERING BLUEPRINT FOR CHANGE.
- Asia Literary Review now has an online presence
- Iran movement news of the past three days in brief
- COMMEMORATING HABIB TANVIR
- Protest of the Light
- New book of poetry: Eigth Habitation
- New Book: Look Who’s Morphing
- On Human Rights and Media Freedom in Sri Lanka
- Review: The Wild Green Yonder
- Seventh issue of Cha: An Asian Literary Journal has now been launched
- THE ASIALINK ESSAYS SERIES
- 今年 六 四之夜 请点亮一支蜡&
- 4TH June 2009, is the twentieth anniversary of Tiananmen Square Pro-Democratic Movement,
- Anatomizing the colonised mind
- SILVERFISH NEW BOOKS: Malay Politics
- Jealousy is my middle name
- On the Quiet Water
- Giramondo books shortlisted for Literary awards
- 2009 Indonesian Arts and Culture Scholarship Program
- 刘霞:呼吁释放我的丈夫刘
- Release Dr. Liu Xiaobo
- Talk and Reading By RANDHIR KHARE
- Launch Beyond the Beaten Track: Offbeat Poems from Gujarat
- The Expat’s Partner: An Email
- The Asia-Pacific Writing Partnership Relocates to the University of Adelaide
- The sixth issue of Cha: An Asian Literary Journal has now been launched
- Almost Island
- Sherna Khambatta Literary Agency
- Update: Centre for Literary Arts and Publishing
- Literatures in Other Languages
- Special Cha Edition: Contents
- Reflections on an Online Journal
- Zelkova Tree
- On Giving Birth to Your Daughter
- Ellipsing, Elapsing
- Whose Woods These Are
- The Mourning Months
- Smashing up the Grand Piano
- Spectral Questions of the Body
- At Hac Sa Beach, Macau
- Bad English
- Flowers are as permanent as Brick
- A Veteran Talking
- A Water Planet
- To John Lyman and the Portrait of his Father
- There’s Always Things to Come back to the Kitchen for
- The Ghost in the Mirror
- Bet
- Betrayal
- The Killing
- Pusat
- 国际笔会三百多作家联署呼