Water Edition - HUJAN PERTAMA

Tuesday, February 13, 2007

HUJAN PERTAMA
Azhari


Sudah tiga sore ibu memandang ke timur. Memacakkan pandang ke dinding gunung. Seperti bersiap menelannya.

Aku ingat begitulah kebiasaan ibu dulu menanti kepulangan mendiang bapak setelah empat-tiga hari berada di pasar. Padahal pekan yang jaraknya 35 Km dari kampung tidaklah berada di sebalik gunung itu, tapi di barat. Kata ibu gunung yang biru legam itu memberikan ketentraman tatkala menunggu.

Kalau sudah begitu ibu akan berlama-lama berdiri seraya tangannya tak lepas-lepas menyumpal tembakau di sela-sela gusinya sambil sekali-kali memuntahkan ludahnya ke tanah. Dia melakukannya dengan betah dari ashar sampai magrib. Dan dia dengan tekun akan menuturkan perihal; gerak awan, wangi angin, uap mentari, kenisbiaan cuaca, suara-suara yang digemakan oleh burung-burung, kepada kami yang setia menemaninya. Ibu menyebutnya sebagai penanda.

Ibu sedang memperkirakan kapan hujan pertama musim ini turun.

“Kalian lihat sepuluh awan yang menyerupai tudung saji itu,” tunjuk ibu, dan kami semua menengadah mengikuti telunjuk ibu “Di dalamnya terpendam jutaan serbuk hujan. Berpusing berbalik jarum jam menuju laut. Dan hiruplah bau angin yang seharum kulit sagu yang mengantar awan itu. Sebentar lagi kalian juga akan menyaksikan sekawanan burung hujan akan memotong dari utara menuju selatan. Mereka akan merontokan bulu-bulunya. Itu tandanya musim kawin hampir tiba. Aha, mana si Tanyak,” ibu terkekeh lama sekali sambil menghapus airmatanya yang ikut keluar, matanya mencari-cari Apa Tanyak, tetangga kami yang masih berfamili dengan ibu, “Aku menyarankannya mencari jejatuhan bulu-bulu burung hujan itu agar jodohnya dimudahkan.” Kami semua tertawa mendengar gurau ibu.

“Maka aku yakin empat belas hari bulan, dan itu dua hari lagi, hujan akan turun dari pukul tujuh pagi sampai habis ashar. Berhenti hingga magrib. Dari insya hujan akan terus turun lagi sampai bang subuh pertama. Begitulah seterusnya selama satu Jum’at lamanya. Paloh, sudah kau tambal atap kandang kambing, hah?. Dan aku berharap kalian semuanya mengasah cangkul, menyiapkan kerbau-kerbau kita, pun kuk jangan sampai lupa. Kita bersiap turun ke sawah.”

“Tapi tadi hampir subuh aku mendengar kulik elang, menyayat sekali! Apakah itu artinya suami Ernawati bakal ditemukan?” aku menyela.

“Tidak Paloh. Tak ada hubungannya. Aku juga mendengarnya. Itu kematian dari jauh - entah siapa. Tak sampai ke sini. Percayalah!” Ibu berusaha meyakinkan.

Aku percaya. Kemahiran ibu dalam melihat tanda-tanda langit, seperti memperkirakan musim, atau meruwat kapan kepastian puasa pertama atau hari raya sangat membantu penduduk kampung yang masih memegang kuat tanda-tanda alam sebagai penunjuk. Padahal almanak dan jam dinding terpacak di setiap rumah mereka. Ibu tak hanya pandai dalam hal membaca tanda-tanda, tapi dia juga memiliki keistimewaan kecil lainnya seperti mengurut, membantu persalinan, memandikan jenazah, bahkan menyembelih ayam. Kepandaiannya tersebut telah mendudukan ibu di susunan tuha peut di kemukiman kami, sebagai ahli falak yang menyampaikan tanda baik-buruk, boleh-tidaknya susuatu dilakukan.

Begitu gembiranya ibu sore ini. Aku seperti melihat keriangan yang sama, apabila bulan di langit semakin mengecil yang menandakan bahwa bulan Sya’ban akan segera berlalu, dan bulan Ramadhan segera tiba. Kegembiraan itu ditunjukan ibu dengan senandung kecil yang kata-katanya dapat diartikan sebagai ucapan terima kasih kepada yang kuasa.
“Hayo kalian semua masuk ke rumah. Aku tak lagi mencium bau kulit sagu. Angin berubah aroma setengik pelitur. Dan itu mendatangkan penyakit.”

Tak lama kemudian terdengar azan magrib.

Aku masih sempat melihat sekawanan burung hujan memotong utara menuju selatan dan merontokkan bulu-bulunya.

Aku menahan nafas, ada banyak harapan dari hujan pertama musim ini.

Tapi aku tak sepenuhnya yakin. Bukan karena hujan pertama tak akan mengucur seperti perkiraan ibu. Ibu selalu tepat. Sudah dua musim sawah-sawah kami yang luas itu terendam air, tapi kami juga tak dapat ke sawah. Karena perang dua musim antara Orang Gunung dan Tentara Pemerintah telah membuat sawah yang terendam yang mestinya dicangkur tak ada artinya bila ditaburi benih. Ibu melarang kami turun ke sawah - takut terjadi apa-apa dengan anaknya. Seperti Utoh Daham yang tertembak musim lalu tatkala menutup pintu air sawahnya. Seperti Nen yang diciduk tepat di tengah sawah dikira sebagai mata-mata musuh. Ada banyak peristiwa yang telah membuat orang kampung kecut untuk mengerjakan sawahnya, ladangnya, atau melepas ternak-ternaknya.
Tapi musim ini perang sepertinya agak mereda. Kontak tembak sudah jarang terdengar. Truk tentara hanya sekali-kali melintas di jalan-jalan kampung. Orang Gunung juga sudah tak lagi membuat ceramah di balai-balai. Dan aku mendengarkan dari ibu yang mendapat kabar dari Ulee Mukim mereka yang berperang terikat janji untuk tak saling menyerang. Dan orang kampung mempercayainya. Mereka percaya kuasa doa.

“Mereka telah teken untuk tak saling menyerang.”

“Sampai kapan bu?” tanya Bang Husein

“Enam bulan. Ada kesempatan buat panen. Setelahnya kita siapkan perkawinan kau!”

Kami semua senang mendengarnya.

Dua musim tak turun ke sawah, meski air meruah dan sawah-sawah menjadi danau besar, telah membuatku dan Pii, adikku, tak lagi memikirkan sekolah. Abang Husein pun sudah bermalu muka dengan pihak keluarga calon istrinya karena tak sanggup menunaikan mahar yang cuma beberapa mayam itu - padahal empat-lima dari berupuluh-puluh lubang sawah yang kami punya lebih dari cukup untuk sekadar membayar mahar sekaligus menyiapkan perkawinan, bahkan sampai ke acara antar-mengantar tujuh isi talam kalau-kalau kelak calon istrinya mengandung. Selebihnya utang ibu yang kian menumpuk.

“Dan aku dan Pii bisa melanjutkan sekolah bu?”

Ibu mengangguk. Aku dan Pii mengadu telapak tangan. 

Ada banyak hal yang terencanakan dari panen sawah kami kelak yang membentang hampir 50 hektar. Selain buat sekolah aku dan Pii, dan perkawinan Bang Husein, yang terpenting adalah membayar utang-utang yang ditinggalkan almarhum bapak. Sebagai pedagang bapak meninggalkan utang yang tak sedikit empat tahun silam. Kami sekeluarga berhasrat melunaskannya awal-awal sejak bapak meninggal, tapi empat tahun belakang ada banyak hal yang terjadi. Dua musim kemarau ditambah dua musim perang membuat kami harus menunda segalanya. Menjual sawah, ladang, kerbau pun tak ada gunanya. Tak ada orang gila yang mau membelinya!

Seperti halnya kami yang menyimpan harapan besar dari hujan pertama musim ini, orang-orang kampung juga memendam hal yang sama. Masing-masing harapan tentunya mempunyai nilai yang sama, sebesar atau sekecil apapun harapan tersebut. Meski mereka cuma punya sepetak lubang untuk menanam dan berharap dari panen musim ini dapat mekhitan rasulkan anaknya, atau seperti Tunda Munah yang menyimpan harapan untuk dapat menjenguk kakaknya di panti jompo di ibu kota provinsi.

“Mak Husein beri aku selubang yang dekat dengan penggilingan agar aku tak susah-susah mengerjakannya. Rindu sekali aku dengan Kak Sabariah. Tujuh tahun aku sudah tak jumpa dengannya. Kau kan tahu sendiri Kak Sabariah suka sekali dengan beras baru, apalagi itu beras tumbukan. Aku akan menumbuknya sendiri barang beberapa are. Beberapa di antaranya aku berikan ke panitia zakat, sudah empat tahun badan ini tak pernah bersih tak pernah berzakat.” Begitu harap janda tua tanpa anak itu kepada ibu.

Kabar tentang hujan pertama yang bakal turun dua hari lagi telah menyebar secepat fitnah yang biasanya memenuhi mukim kami. Selepas berjamaah isya di meunasah tadi aku, Pii, dan Abang Husein menceritakannya kepada jamaah atas suruhan ibu. Mereka menyambutnya dengan gempita. Dan beramai-ramai ke rumah kami untuk memastikan kebenaran tersebut. Selebihnya adalah meminta kesedian ibu agar diberikan kesempatan buat me-mawah sawah kami yang tak terhingga jumlahnya, dengan mawah nantinya hasil panen dibagi dua. Setengah buat yang punya sawah, setengah buat yang mengerjakan. Ibu berjanji akan memberikan sawahnya buat di-mawah, sedang sisanya akan dikerjakan sendiri. Di depan Keujreun Ubit, ibu mengikralkan perihal itu. Ibu juga menyatakan ia menyedekahkan selubang sawah buat Ernawati. Sawah yang diberikan ibu tidak besar memang, tapi itu telah membesarkan hatinya—ia yang suaminya diculik sebulan lalu. Tapi ini tetap tak dapat menguburkan lara pengantin baru itu yang cuma mengecap beberapa malam masa bulan madunya.

“Apakah sawah itu boleh kupakai buat tebusan Pang Kadi?”

Ibu mengangguk. Semua geming mendengarnya.

Selain harapan aku melihat gairah yang menyala-nyala di mata mereka malam ini. Empat pelita yang terpasang di empat sudut rumah ditambah satu petromaks di tengah beranda yang dengan kuat memompakan api ditambah dengungnya seakan tak sanggup menyamai cahaya gairah yang dipancarkan mata-mata itu. Mata-mata yang dipenuhkan lelatu. Gairah untuk mencium kembali wangi lumpur, melepaskan kebekuan tulang-belulang, dan menyemburkan peluh setelah empat musim terpendam entah di mana.

“Kalian lihat sepuluh awan yang menyerupai tudung saji itu,” tunjuk ibu keesokan harinya kepada orang-orang kampung yang ingin menyaksikan tanda bahwa besok pagi hujan pertama musim ini bakal turun. Semua menengadah mengikuti telunjuk ibu. “Di dalamnya terpendam jutaan serbuk hujan. Berpusing persis jentera menuju laut. Dan hiruplah bau angin yang seharum kulit sagu yang mengantar awan itu. Sebentar lagi kalian juga akan menyaksikan sekawanan burung hujan akan memotong dari timur menuju barat. Dengan berahi mereka akan merontokan bulu-bulunya. Ikutilah gerak matahari yang lamat-lamat turun di lekung antara gunung. Lama sekali matahari akan bertahan di belahan itu. Matahari seperti tak ikhlas memberikan tugasnya kepada hujan. Matahari akan menusukkan cahaya terakhir tembaganya yang seperti buraian sapu lidi pada daun-daun, batu-batu, pada bulu burung-burung hujan yang kemilau karenanya.”

“Maka aku yakin empat belas hari bulan, dan itu satu hari lagi, hujan akan turun dari pukul tujuh pagi sampai habis ashar. Berhenti hingga magrib. Dari isya hujan akan terus turun lagi sampai bang subuh pertama. Begitulah seterusnya selama satu Jum’at lamanya.”

“Apakah kalian sudah menyiapkan benih, cangkur, tenggala, memberikan makan kerbau-kerbau kalian agar kuat, hah?”

Mereka mengangguk. Ada yang tersenyum. Ada desis syukur kepada Tuhan.

“Lihat!” Seru seseorang. Beberapa bulu burung hujan jatuh bergulung berkilauan ditikam sinar matahari.

Malamnya aku dan Pii mengikir cangkur, pun mata tenggala hingga hampir subuh. Bang Husein semenjak lepas magrib ke rumah Keujreun Ubit bermufakat ihwal pengaturan air. Ibu tampak cemas, ia habis pulang memandikan jenazah Pang Kadi, suami Ernawati yang hilang sebulan lalu - ia senja tadi ditemukan di pertikungan jalan kampung. Ibu tegak di tubir tingkap yang menghadap ke timur. Jemari lisutnya dengan gentar membetulkan letak tembakau di sela gusinya. Di luar terdedengar angin bergulung-gelung keras berdengung bagai amuk sejuta lebah. Mengangkut jutaan serbuk hujan yang bakal tumpah pukul tujuh pagi memenuhi sawah-sawah kami.

“Sebentar lagi akan terdengar kulik elang, mensyiarkan kematian Pang Kadi kepada seluruh kampung. Pukul setengah tujuh pagi akan gerimis sebentar. Itu isak tak ikhlas si Kadi. Airmata orang mati. Baru kemudian pukul tujuh hujan yang sebenarnya turun. Hujan pertama musim ini. Dengarlah serbuk hujan mulai terpecah-belah. Dibantu kilat. Ditambah gemuruh. Hujan akan turun rapat-lebat. Memenuhi sawah-sawah kita dengan air. Tapi, kita pantang menanami sawah yang sebelumnya sudah dibasahi airmata orang mati, Paloh!”

Ibu memandang terus ke timur. Menyugil-nyugil gusinya.

Muara Duyung, 2002

Beberapa kata (Aceh)

Tuha peut : susunan pemerintah tak resmi tingkat kampung di Aceh, yang terdiri atas empat tetua yang dianggap bijak
Mayam: sama dengan 3 gram emas.
Are: takaran beras sama dengan satu bambu
Meunasah: surau
Keujreun: petugas yang mengatur pembagian air di sawah

Filed under : EDITION  - Water Edition 

ARCHIVES of February , 2007