Lilin – Alvin Pang

Tuesday, January 15, 2008

Lilin

Alvin Pang

A : ei, Ah Pa bakal tau kau ambil lilin dari gereja lagi, kau bakal kena.

B : peduli amat, akan aku balikin setelah kau selesai belajar. kau tak bilang dia tak tau. gelap sekali, gimana baca, gimana belajar?

A : ada bulan malam ini bisa liat dikit. rumah Ah Leong ada lampu, aku pakai kaca bisa pinjam dikit. cukup bagus. lilin kau bawa baliklah. aku tak mau diomeli karena kau.

B : aku jauh-jauh bawa pulang kau minta aku bawa balik untuk apa? biarlah sekarang Jumat Agung gereja punya begitu banyak lilin siapa tau kalo kurang sembilan?

A : tau ga tau masih salah. bawa kembalilah.

B : ga mau.

A : pergi sekarang. sudah malam, tunggu Ah Pa pulang mati kau.

B : ga mau. kalo dilihat suster bawa balik gitu banyak lilin mereka bakal tau aku ambil.

A : bilang kamu mau kasi bayi yesus lah.

B : blo’on kamu, bayi yesus itu natal. Jumat Agung itu yesus mati!

A : apa sajalah. saya bukan yang ke gereja mana saya tahu? kau harus bawa kembali ok? Ah Pa selalu bilang kita orang harus jujur. tidak boleh curi, tidak boleh curang, tidak boleh bohong.

B : ah pa bilang begitu tapi dia juga bohong lho. minggu lalu inspektur kesehatan datang dia juga bohong, bilang rumah kita bersih sekali. padahal dia sembunyikan dua kecoa di bawah sepatu.

A : itu beda. itu pemerintah.  bohongi pemerintah ga dihitung sebab mereka tidak peduli kamu baik atau jahat, mereka hanya mau uang untuk surat izin, tanpa surat izin kita mati mereka ga peduli.

B : yesus juga seperti pemerintah ya. dia ga peduli mana kamu buta atau tidak, rumah punya lampu atau tidak. dia cuma bergantung di sana sepanjang hari untuk dilihat orang, taruh duit dalam
kotak, memberi dia begitu banyak lilin untuk apa. dia juga tidak ujian, saya pinjam lilin untuk belajar kok ga boleh.

A : aiya terserah kaulah. ngomong banyak juga ga ada gunanya. sebaiknya kau belajarlah sebelum Ah Pa pulang.

B : ngomong banyak saya sudah lapar. saya turun beli mi dari Fat Girl, kau mau?

A : ga mau, aku kenyang. Ah Ma liat kau makan lagi dia marahi kau. makan terus, keras kepala dan gendut seperti babi. Tunggu kau ga belajar ga lulus ujian kau baru tau. kau begitu keras kepala dan gendut besok mau jadi apa?

B : aku bisa jadi sopir seperti Ah Pa, atau jual daging seperti Ah Leong atau gangster seperti Ah Soon. Lalu pemerintah bisa datang mina uang dan aku bisa panggil gengku untuk gebuki mereka. siapa pun ganggu kau atau adik akan kugebuki.

A : Xiao, kalo kau jadi gangster luka-luka gimana? kepala kena parang lubang besar gimana?

B : Cepat dong kau jadi dokter jadi kalo aku sakit kau sembuhkan aku. Lalu Ah Por batuk juga bisa sembuh. Juga bikin uang supaya bisa punya lampu di rumah. jadi ga perlu pinjam lilin dari yesus lagi.


[Diterjemahkan oleh Kadek Krishna Adidharma]

Filed under : EDITION  - Terra 

ARCHIVES of January , 2008