Tangan by Melchior dias Fernandes
“Apakah selama ini kalian masih makan jagung? Kata seorang laki-laki yang duduk disampingku dalam penerbangan Bali ke Jogja. Dia laki-laki berseragam yang dulu kami panggil “Bapak”. Dia dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta setelah menyelesaikan pekerjaannya di Irian Jaya. Sedangkan aku pergi ke Yogya untuk belajar. Seragamnya mengingatkan aku pada tentara-tentara di Timor Leste beberapa tahun lalu, ketika negaranya masih menjajah negaraku.
“Tentu saja Pak!” sambil tersenyum, aku menawarkan sekaleng lemonade yang dibagikan di pesawat. Dia mengambilnya dengan tangan agak bergoyang saat pesawat mulai menapaki langit.
Tangan itulah yang membawaku pada masa laluku, ketika aku masih kecil. Saat itu pertengahan musim hujan, dan ladang-ladang dipenuhi jagung. Itu adalah makanan pokok kami. Ladang kami berada jauh dari rumah, kalau berjalan sekitar 2 jam lamanya. Waktu itu, kakekku menggarap kebun yang tidak begitu luas, jauh memang, tapi berada di pingiran hutan. Karna jika ladang itu di tengah hutan, maka kami akan disebut Clandestine atau bekerjasama dengan para gerilya.
Sore itu sedang hujan, tapi kakek sudah berjanji untuk mengajakku jalan-jalan di ladang. Sesampainya kami disana, kakek memilih beristirahat di gubuk kecil di tepi ladang, dan aku mulai menyusuri rerimbunan pohon jagung yang tumbuh tinggi menjulang. Aku belum terlalu jauh masuk ke dalam ladang, ketika mataku terpaku pada sosok orang yang berdiri di antara rimbunan pohon jagung. Sejenak aku terpaku heran, karena aku belum pernah melihat orang ini sebelumnya.
“Pencuri!” teriakku sambil melompat ketakutan. Orang itu memakai seragam tentara persis seperti yang dikenakan Bapak, tetapi seragam yang dipakai lelaki ini jauh terlihat sangat kumal serta sebuah selendang yang dililitkan di leher dan pinggangnya. Dan tas sebuah tas yang bergantung di punggungnya dan dia memiliki sebuah senjata api yang mirip dengan senjata Bapak.
‘‘Hei pencuri apa yang kamu lakukan?! Jauhi ladangku!” teriakku. Saat itu aku berharap kakek mendengar suaraku yang penuh keberanian.
Lelaki itu tidak bergerak seincipun dari tempatnya, dan hanya berdiri mematung bagai patung tua yang tak terjamah. Aku pun bergerak mendekatinya dan tak yakin saat itu apakah aku takut atau tidak,yang jelas walaupun aku tak bisa lihat kakekku namun aku yakin kakekku tidak jauh dariku. Tanpa menghiraukan aku lelaki tiu pun melanjutkan keinginanya sambil mematahkan ujung batang pohon jagung dan mengupas daunnya satu-persatu dan menghempaskannya ke tanah.Dia melakukan semuanya seolah-olah ladang itu adalah miliknya.
Aku terus berteriak dan dia tetap melakukannya. Ia menolehkan pandangannya ke arahku dan mulai memangilku dengan suara yang lembut. “Hei … sobat kecil tenanglah ...” suaranya terdengar sangat lugas tapi sangat kontras dengan wajahnya. Wajah yang mengerikan ... tapi suara itu … terdengar sangat indah sehingga membuat rasa takutku hilang seketika.
Aku tahu dia tidak akan melukaiku,jadi aku pun bergerak mendekatinya. Dia menyambutku sembari tersenyum. Tangan kurusnya yang mengigil kedinginan itu mencoba mengelus rambutku. Dengan suara yang sendu dia berkata “Perang ... telah membuat kita seperti ini ...” sambil mengelus rambutnya yang makin mirip dengan Supermi. “Seorang keponakan tidak mengenal pamannya sendiri,” sambil menoleh ke sekelilingnya dan bertanya ‘‘Di mana kakekmu?”
“Bagaimana kamu bisa tau kakekku? Dan kenapa kau berbicara seperti itu padaku?”
“Mari, kita duduk dengan kakekmu dan kamu akan mengerti!”
Aku mengikuti langkahnya yang melangkah tertatih-tatih karena kakinya yang luka. Kami semakin bingung, dan kami pun melangkah bersama sambil mencari kakekku, karena hujan yang yang semakin deras itu kami pun tak bicara banyak dan langsung menuju gubuk. Aku tahu bahwa kakekku pasti sudah berada di gubuk.
Setibanya kami di gubuk, aku langsung berlari ke sisi kakekku. Lelaki itu pun menghentikan langkahnya di ambang pintu. Yang aku lihat, kakekku sama sekali tidak bergeming. Matanya langsung tertuju pada kaki lelaki yang terluka itu.
‘‘Jorok sekali,kamu tertembak dimana?!’’ tanya kakek menaruh tangannya diatas lutut lelaki itu.
Aku pun mendekati mereka dan tetap mencurigai lelaki itu, aku semakin bingung. Tapi dalam hatiku aku merasakan hal yang beda, aku merasa kasihan terhadap luka yang dialaminya,aku berharap agar kakekku akan menyuruhku untuk melakukan sesuatu untuknya.
Tasnya masih tergeletak diatas tanah. Lalat-lalatpun berterbangan diatasnya. Dia mulai meraih tas itu, dan aku mencoba untuk tau akan apa isi dari tas itu, tapi setengah dari badannya menutupi pandanganku. Namun aku masih bisa melihat dengan jelas ketika lelaki itu mulai mengeluarakan sesuatu dari dalam tasnya,sesuatu yang mengejutkan dan mengerikan ... ternyata yang aku lihat adalah sebuah potongan tangan manusia. Tangan itu beda dengan tangan orang-orang di desaku. Tangan orang desa lebih keras dan kasar. Namun tangan ini lebih lembut dengan jari-jari panjang yang indah.
Lelaki itu kemudian melepaskan sebuah arloji dari potongan tangan itu, dan kemudian melemparkan tangan itu keluar dari gubuk itu.
Setelah usai melihat semuanya, aku di hadapi pada satu hal yang sebenarnya aku sendiri belum mampu untuk tahu dan memilih satu solusi yang tepat.
Aku tidak pernah bercerita pada siapapun tentang pertemuanku dengan pamanku atau pun tentang tangan itu karena ada banyak hal yang aku pikirkan. Pertama, aku pesimis orang-orang akan percaya dengan ceritaku, kedua, kakekku telah mengajariku bagaimana menyimpan rahasia. Kalau itu tentang urusan anak kecil, kamu masih bisa berbagi cerita pada semua orang, tapi kalau sudah menyangkut urusan orang tua, apalagi menyangkut hidup dan mati ditengah perang, kamu harus mati bersama rahasiamu sendiri.
Sebuah suara mengalun di interkom.
‘‘Persiapan untuk mendarat”
Bapak di sebelahku masih terlelap dan tangannya masih menenteng sekaleng minuman. Dengan hati-hati aku menepuk pinggangnya,’‘Pak bangun!! Kita sudah mendarat!”
Dia mengangguk tersenyum, “Oh … selamat datang di Yogyakarta!”
Kami pun bersalaman dan berpisah.
ARCHIVES of January , 2008
- Asia-Pacific Writers supports S.E.A.Write Festival 2012
- Review: Ora Nui 2012 Maori Literary Journal
- FEATURE FILM REVIEW: SKY WHISPERERS: RANGINUI
- Review: THE PARIHAKA WOMAN
- Cha “Encountering” Poetry Contest
- Writing Out of Asia
- ME’A KAI The Food and Flavours of the South Pacific
- WILFUL BLINDNESS - WHY WE IGNORE THE OBVIOUS AT OUR PERIL
- ME TE OTURU: RADIANT LIKE THE FULL MOON - A REVIEW ESSAY OF FIONA KIDMAN’S MEMOIRS.
- Good news for readers of Indonesian literature in translation!
- UEA Fellowship for creative writers living in South Asia
- MORE THAN 1.5 MILLION VISITORS
- Writing Across Cultures’ papers & provocations available online
- Memoir/ Fiction/ Travel Writing masterclasses with Beth Yahp
- Yuanxiang (Otherland Literary Journal) No. 13, 2011 now out
- REVIEW: WATER WHISPERERS TANGAROA
- Review: The World According to Monsanto
- SHAPESHIFTING PASSAGES
- ICPC Statement on the Passing of Zhang Jianhong
- REVIEW:TALANOA, TAFAKATATA, TAFAKALANU: TONGAN STORIES FROM THE PACIFIC
- REVIEW: ROUTES AND ROOTS: NAVIGATING CARIBBEAN AND PACIFIC ISLAND LITERATURES
- REVIEW: MY UROHS
- Review: FOOD FROM NORTHERN LAOS – THE BOAT LANDING COOKBOOK
- REVIEW: BETRAYAL, TRUST AND FORGIVENESS – A GUIDE TO EMOTIONAL HEALING AND SELF-RENEWAL
- ASM TO LAUNCH 13 NEW BOOKS ON SATURDAY DECEMBER 18
- Collected Works Bookshop, Melbourne
- National Novel Writing Month
- PEN All-India Statement on Rohinton Mistry Ban
- 独立中文笔会关于刘晓波荣!
- Dr. Liu Xiaobo, is awarded to the Nobel Peace Prize for 2010
- Oceanic Conference on Creativity and Climate Change - Oceans, Islands and Seas
- Kia Ora Book and DVD review
- 世界各地笔会等49团体就北京&#
- A Joint Statement on the Trial of Dr Liu Xiaobo
- *CALL FOR SHORT STORIES*
- Review: THE TROWENNA SEA
- WRITING ACROSS CULTURES
- Atlas of Unknowns, by Tania James
- GuideGecko Writing Contest
- `A LOVE FOR LIFE - SILENCE & HIV’
- SRI LANKA: Tamil journalist sentenced to twenty years imprisonment
- Peril’s Call for Submissions - Issue 8
- PEN International Magazine seeking contributions
- Asia Literary Review is calling for submissions
- Perfectly Frank
- Asia Literary Review
- Iran news in brief. July 22
- Sydney PEN condemns censorship attempt; congratulates Melbourne Film Festival
- Review: EARTH WHISPERERS PAPATUANUKU: AN EMPOWERING BLUEPRINT FOR CHANGE.
- Asia Literary Review now has an online presence
- Iran movement news of the past three days in brief
- COMMEMORATING HABIB TANVIR
- Protest of the Light
- New book of poetry: Eigth Habitation
- New Book: Look Who’s Morphing
- On Human Rights and Media Freedom in Sri Lanka
- Review: The Wild Green Yonder
- Seventh issue of Cha: An Asian Literary Journal has now been launched
- THE ASIALINK ESSAYS SERIES
- 今年 六 四之夜 请点亮一支蜡&
- 4TH June 2009, is the twentieth anniversary of Tiananmen Square Pro-Democratic Movement,
- Anatomizing the colonised mind
- SILVERFISH NEW BOOKS: Malay Politics
- Jealousy is my middle name
- On the Quiet Water
- Giramondo books shortlisted for Literary awards
- 2009 Indonesian Arts and Culture Scholarship Program
- 刘霞:呼吁释放我的丈夫刘
- Release Dr. Liu Xiaobo
- Talk and Reading By RANDHIR KHARE
- Launch Beyond the Beaten Track: Offbeat Poems from Gujarat
- The Expat’s Partner: An Email
- The Asia-Pacific Writing Partnership Relocates to the University of Adelaide
- The sixth issue of Cha: An Asian Literary Journal has now been launched
- Almost Island
- Sherna Khambatta Literary Agency
- Update: Centre for Literary Arts and Publishing
- Literatures in Other Languages
- Special Cha Edition: Contents
- Reflections on an Online Journal
- Zelkova Tree
- On Giving Birth to Your Daughter
- Ellipsing, Elapsing
- Whose Woods These Are
- The Mourning Months
- Smashing up the Grand Piano
- Spectral Questions of the Body
- At Hac Sa Beach, Macau
- Bad English
- Flowers are as permanent as Brick
- A Veteran Talking
- A Water Planet
- To John Lyman and the Portrait of his Father
- There’s Always Things to Come back to the Kitchen for
- The Ghost in the Mirror
- Bet
- Betrayal
- The Killing
- Pusat
- 国际笔会三百多作家联署呼