Kuda Terbang Maria Pinto – Linda Christanty
MENJELANG senja Yosef Legiman melihat Maria Pinto mengarungi langit dengan kuda terbang. Angin tiba-tiba menggeliat bangkit dan mendesis. Udara menjelma mantra ganjil yang berdengung dalam bahasa sihir; wangi, membius segala yang bergerak dan keras kepala. Ia tertegun, menengadah, mendekap senjata laras panjang otomatis, dan teringat pesan komandannya, “Biarkan dia lewat, jangan menembak.”
Gaun lembut Maria Pinto membelah anyir
Maria Pinto’s Flying Horse – Linda Christanty
Before dusk falls, Joseph Legiman sees Maria Pinto sailing through the sky on a flying horse. The wind suddenly stirs and hisses. The air transforms into a strange mantra that hums in the language of witches; fragrant, drugging anything moving or still. Arrested, he looks up, hugs his automatic rifle, and remembers his commander’s message: “Let her pass, do not shoot.”
Maria Pinto’s soft gown slices the stench of war
The Hand – Melchior Dias Fernandes
“Do you guys still eat corn out that way?” said the man sitting next me on a plane to Bali. He was what we always called a ‘Bapak’. He was returning to Jogyakarta from service in West Papua. I was going to Jogyakarta to study. His uniform reminded me of soldiers in East Timor several years ago when his country had colonised mine.
“Of course.” I smiled, passing him a can of lemonade from the airline trolley. He received it
Tangan by Melchior dias Fernandes
“Apakah selama ini kalian masih makan jagung? Kata seorang laki-laki yang duduk disampingku dalam penerbangan Bali ke Jogja. Dia laki-laki berseragam yang dulu kami panggil “Bapak”. Dia dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta setelah menyelesaikan pekerjaannya di Irian Jaya. Sedangkan aku pergi ke Yogya untuk belajar. Seragamnya mengingatkan aku pada tentara-tentara di Timor Leste beberapa tahun lalu, ketika negaranya masih menjajah negaraku.
Selamatkan Kami dari Mimpi Buruk – Mark Bowling
Bali, 12 Oktober 2003 – setahun setelah bom Bali pertama
Selagi mentari terbit, kurasakan angin semilir lembut bertiup dari laut. Dari puncak bukit tinggi di atas teluk Jimbaran kuamati cahaya pertama melimpahi atap hotel-hotel wisata dan paviliun-paviliun resor yang membintik sepanjang pesisir sampai Pantai Kuta dan seterusnya. Tentunya ini surga, pikirku. Setidaknya dulu.
Aku berjalan memasuki gerbang serupa gua ke
EDITION CATEGORY
THIS EDITION ENTRIES
- Kuda Terbang Maria Pinto – Linda Christanty
- Maria Pinto’s Flying Horse – Linda Christanty
- The Hand – Melchior Dias Fernandes
- Tangan by Melchior dias Fernandes
- Selamatkan Kami dari Mimpi Buruk – Mark Bowling
- Save Us from Nightmares – Mark Bowling
- Meditasi Martini – Frank Moorhouse
- Meditations on the Martini – Frank Moorhouse
- Pengungsi Siap-Siap Berangkat – Helen Pavlin
- Refugees Prepare for Departure – Helen Pavlin
- Bau – Ayu Utami
- Smell – Ayu Utami
- TERRA: A Bilingual Anthology from WordStorm, the NT Writers’ Festival
- Harapan – Ze’sopol Caminha
- Hope – Ze’sopol Caminha
- Lilin – Alvin Pang
- Candles - Alvin Pang
- Di Tepi Sungai – Romaine Moreton
- Beside the River – Romaine Moreton
- A storm of words reaching out across terra firma - Jan Cornall
- Selamat Datang di Daratan Tak Bertuan – Sam Wagan Watson
- Welcome to No Man’s Land – Sam Wagan Watson
- Haiku dan Renyu Bali – Kaye Aldenhoven
- Bali Haiku and Renyu – Kaye Aldenhoven
- Bali Haiku and Renyu – Kaye Aldenhoven