Harapan
Ze’sopol Caminha
Ketika aku mengharapkan bantuanmu
kau diam seribu bahasa, tapi … mendukung musuhku
Tempatku hangus terbakar
Kawan-kawanku mati terkapar
Pemusnahan dan penghancuran
tiada harapan
Bagai nyamuk, kau mulai menghisap darahku
di sekujur tubuhku
Tubuhku mulai pucat
kau datang sebagai dewa penyelamat
Menyiramku bagai bunga
tuk’ penuhi dahaga
Hidup kembali dari kematiannya
berbunga dengan mekarnya
kau mengklaim menjadi tuannya
Memetiknya
walau aku pemiliknya
tapi untukku, pohon dan daunnya
[Farol, 25 Februari 2000]
[Diterjemahkan oleh Kadek Krishna Adidharma]