Ia menjawab bahwa martini dikarantina dari ironi sebab harus ada bagian hidup kita yang bebas dari ironi. Dia memilih martini.
‘Tentu, ada lelucon tentang martini,’ katanya, ‘namun buat apa buang-buang waktu membicarakannya secara ironis? Seisi dunia selainnya bisa dibicarakan secara ironis. Itu cukup. Dan satu lagi, bila kau mencoba membicarakan martini secara ironis, ia akan menggulung ironi itu ke dalamnya.’
Aku sudah menyampaikan meditasiku tentang martini – di Sydney Writers’ Festival, di Darwin Wordstorm Festival, di M-on-the-Bund in Shanghai, dan dua di Hong Kong International Literary Festival.
Aku sudah sering ke festival sastra di sekeliling dunia tapi aku belum pernah pergi ke festival yang juga dihadiri tiga dari keempat penunggang kuda kiamat – perang, wabah, dan kematian – mereka hadir di Festival Hong Kong.
Pada hari festival dimulai ada berita tentang ‘flu mematikan’ – awalnya disebut pneumonia atipikal dan kemudian SARS, yang telah menyerang ratusan orang di Hong Kong dan untuk ini WHO pun mengeluarkan peringatan ke seluruh dunia.
Setelah check in, aku pun pergi ke bar Sonata, sebuah bar di gedung jangkung di Hong Kong dengan pemandangan teluk dan kehidupan gemerlap Hong Kong yang semrawut. Dengan sebersit perasaan dilanda bencana – ini kali pertama aku terjebak wabah – kubawa koran-koran penuh berita tentang penyakit misterius yang menyapu pulau ini, dan mungkin sedang menyapu dunia.
Aku memesan martini, membahas cara membuatnya dengan pramusaji, dan pergi ke sebuah meja.
Di dekatku, kulihat seorang pria, terduduk, kepala ditopang kedua tangan pada bar Sonata dengan segelas martini di depannya. Saya rasa ia mungkin tamu festival juga dan, karena si martini, ia kutanya. Memang benar.
Kami bergabung dan selagi aku membungkuk untuk duduk ia berkata, ‘Kau dapat zaitun berisi dalam martinimu. Bagimu, bukankah warna merah paprika itu sedikit terlalu, bagaimana ya, mencolok?
Bercak merah dalam gelas itu?’
Ya Tuhan, pikirku, ini saudara Voltz. Lalu kupikir itulah bercak merah wabah. Ia kuberi tahu dan kami tertawa.
Kami bertukar nama dan ia bukan saudara Voltz. Ia Jon Cannon dan ia menelepon istrinya, novelis Lui Hong – Startling Moon – yang dengan Ann mereka yang berusia tiga tahun datang ke bar dan juga memesan martini.
Bersama di bar gedung jangkung, memandangi teluk Hong Kong, di atas seisi dunia, dan minum martini masing-masing, kami bergurau dengan gagahnya tentang wabah yang menyapu pulau, mengingat Death in Venice Thomas Mann di mana para pejabat mencoba merahasiakan berita wabah supaya tidak merusak musim pariwisata – ‘Tidak ada wabah di Venesia.’
Lui dan Jon harus mengambil keputusan untuk tinggal atau pergi dan bahwa penerbangan ke luar dengan pesawat udara mungkin lebih beresiko.
Karena kondisi pikiranku yang murung dan ingin sendiri, tidak penting rasanya bila aku tinggal dengan wabah atau pergi. Teman lamaku, Richard Hall yang mengagumkan, ahli sejarah, mantan sekretaris pribadi Gough Whitlam ketika ia Perdana Menteri, sedang sekarat di Rumah Sakit Royal Prince Alfred dan aku kembali masuk terapi.
Keesokan harinya ada orang-orang di jalanan memakai masker.
Kabarnya sekarang ratusan orang telah terinfeksi dan sekarat.
Sepuluh penulis batal datang.
Aku ada di program untuk memberi ceramah berjudul Percakapan Martini dan pada malam pertamaku tampil serangan Amerika atas Irak dimulai dan orang-orang di festival bicara tentang sebuah perang dunia baru – ‘benturan antarperadaban’.
Aku berkata pada penonton bahwa mungkin terkesan terlalu dekaden untuk bicara tentang cara tepat membuat martini di tengah wabah, dikelilingi oleh, entah berapa orang mati dan sekarat, dan di tengah perang yang ukuran dan dampaknya tak diketahui. Dan aku sedang terapi lagi. Dan Richard Hall sekarat.
Aku tahu, meski demikian, bahwa si pecinta hidup, Richard Hall, walau ia sendiri bukan peminum martini, akan setuju aku menyampaikan ceramah tersebut.
Dr. Meghan Morris yang terkenal secara internasional, seorang profesor studi budaya di Lingnan University, berdiri di antara hadirin dan mengatakan bahwa ia menganggap kesediaanku berbicara tentang martini dan penuhnya ruangan dengan hadirin untuk mendengarkannya di restoran terkenal M-on-the-Fringe merupakan ‘pengukuhan gaya hidup mapan di hadapan nasib manusia.’ Para penonton tepuk tangan.
Dan para penonton ceria meski dunia di luar sedang runtuh. Ketika aku di Cina sebagai duta budaya tahun 1980-an, tema-tema kunjungan tersebut merupakan Persaudaraan dan Perdamaian dan Persahabatan Internasional yang disulang tuan rumah Cinaku dengan berbagai pidato dan bergelas-gelas arak. Sehebat-hebat hidangan Cina, tetap terbatas dalam kombinasi alkohol dan makanan – tidak ada anggur, tidak ada martini (Aku pernah mengatakan hal ini kepada seorang karyawati komunis Cina dan membuatnya marah besar). Namun, kini, setidaknya aku bisa memperbaiki hal ini.
Sekarang aku di sini, di Cina lagi, mengajar mereka cara membuat martini. Mungkin akulah titik tumpah sejarah Cina yang akan menjungkirkan mereka ke dalam dekadensi.
Bersama-sama, malam itu, para hadirin, keempat penunggang kuda kiamat, dan aku, merenungkan misteri martini.
Seminggu kemudian, setelah ceramah martini terakhirku di Shanghai, Konsul-Jenderal, Sam Gerovich, mengajakku menepi dan mengatakan bahwa ia dapat berita: Richard Hall meninggal hari itu, tapi ia menyimpan fakta itu sampai ceramahku selesai.
Aku berterima kasih padanya. Lalu, kubawa martiniku ke luar balkon restoran sendirian dan memandang sungai dan lampu-lampu lalu-lintas air yang tiada henti dan mengingat Richard, juga minum, makan, dan seluruh perdebatan yang kami bagi sejak kami tujuh belas tahun.
Kuingat dua hal yang diajarkan Richard padaku. Ketika kami jurnalis muda magang kami bicara tentang seks. Dia Katolik dan aku sosialis-ateis. Aku tidak tahu pengalaman seksual apa yang telah ia peroleh dan meski pengalamanku sedikit sekali, tapi, begitulah, sudah bervariasi. Aku ingat ia mengatakan, ‘Seks adalah ekspresi yang dapat diraba atas hal yang tak tersentuh.’ Aku suka itu. Kelak aku juga belajar, ada kalanya seks merupakan ekspresi yang dapat diraba dari hal yang dapat disentuh dan itu pun baik-baik saja.
Kemudian dalam hidup kami, setelah ia terjun ke politik, kami bicara tentang pendanaan pemerintah untuk seni. Aku tertarik bagaimana kita bisa menghimbau masyarakat dan politikus bahwa seni itu penting dan layak diberi dana. Kami menimbang perdebatan tentang menjadi ‘kenangan bangsa’ dan bagaimana seni garda depan mengajar orang untuk berpikir secara kreatif. Bahwa penting bagi sebuah budaya ‘memiliki ceritanya masing-masing.’
Pada akhir diskusi itu, ia mengatakan, ‘Kupikir percaya pada nilai seni itu soal keyakinan,’ lalu ia tertawa, ‘Katakan itu pada Partai. Katakan itu pada pemilih.’
Richard mengatakan itu pada mereka. Dan mereka percaya padanya.
Dalam hidupnya, sekalipun Richard tidak pernah mereguk minuman keras beralkohol tinggi. Ia percaya bahwa dengan hanya minum bir dan anggur ia tidak akan menjadi alkoholis. Ia meninggal karena komplikasi medis yang kemungkinan besar disebabkan dan diperparah oleh alkohol namun akalnya sangat sehat sampai akhir hayatnya.
Pertemuan terakhirku dengannya di rumah sakit pas sebelum aku pergi ke Hong Kong dan Shanghai. Ia mau kencing. Aku bilang aku akan panggilkan perawat tapi ia bilang, ‘Kamu saja.’ Kutemukan botol urin dan kusingkap seprai, buka piyamanya, dan memasukkan penisnya ke botol. Aku berkata, ‘setelah ini aku akan membelikanmu Playboy dan kita bisa melakukan yang satu lagi.’
Ia tertawa, dengan kesan sakit, dan sesak, ‘Jangan buat aku tertawa, sakit.’
Richard seorang pria tradisional. Ia dan aku tak pernah berjabat tangan, saling merangkul pundak, berpelukan, lebih lagi berkecup-pipi dengan ramah dalam gaya pria baru yang harusnya kami lakukan di hari-hari kebebasan tahun 1970-an.
Memegang penisnya dan memasukkannya ke botol urin, saya pikir, adalah satu-satunya kontak fisik dengannya selama lima puluh tahun mengenalnya sebagai karib.
Aku kembali ke tengah keramaian, dan memesan segelas martini lagi.
Cuplikan dari Martini: a Memoir karya Frank Moorhouse (Random House, Australia, 2005)
[Diterjemahkan oleh Kadek Krishna Adidharma]