Selamatkan Kami dari Mimpi Buruk – Mark Bowling
Bali, 12 Oktober 2003 – setahun setelah bom Bali pertama
Selagi mentari terbit, kurasakan angin semilir lembut bertiup dari laut. Dari puncak bukit tinggi di atas teluk Jimbaran kuamati cahaya pertama melimpahi atap hotel-hotel wisata dan paviliun-paviliun resor yang membintik sepanjang pesisir sampai Pantai Kuta dan seterusnya. Tentunya ini surga, pikirku. Setidaknya dulu.
Aku berjalan memasuki gerbang serupa gua ke dalam ampiteater raksasa yang dipahat pada sisi bukit kapur. Tembok-tembok batu tegak menggapai angkasa. Masih remang-remang di dalam. Burung walet berkicau jauh tinggi di antara rumpun-rumpun kembang kertas yang bergelantung ke bawah dalam ledakan ungu dari puncak tebing. Tempat yang damai – tempat suci Hindu yang dipahat pada permukaan batu karang. Tak lama lagi, iringan bis akan mengantar mereka yang berkabung kemari untuk mengenang ledakan bom di klab malam Bali tepat setahun yang lalu.
Kulintasi taman berumput rapi di belakang ampiteater di mana kru media sedang sibuk menebar kabel dan menyambungkan alat-alat selagi bersiap menyiarkan upacara tersebut secara langsung di TV dan radio. Aku membantu menyiapkan telepon satelit, memutar antena parabola kecilnya agar menangkap signal terkuat, lalu bergegas menulis catatan kecil, menyiapkan diri untuk siaran radio A.B.C. yang akan dipancarkan langsung ke seluruh Australia.
Aku berhenti bekerja untuk mengamati keluarga dan teman para korban bom yang mulai tiba. Sebagian besar orang Barat, namun ada juga orang Indonesia. Mereka dipersilakan duduk di kursi pada lapangan rumput oleh gadis-gadis Bali yang memakai kebaya tradisional cantik dan kain sarung kamben panjang yang nyaris menyentuh tanah. Kukenali wajah-wajah mereka yang selamat dari bom di kalangan keramaian – beberapa di antara mereka telah menjadi selebritas di TV aktualita Australia, manakala mereka bertutur dan menceritakan kembali kisah haru mereka. Beberapa terseok ke kursi mereka menyandang bekas luka-luka dari bom, beberapa masih dibalut perban, satu menangis tersedu. Hadirnya penembak jitu dari Kepolisian Indonesia yang berjongkok di puncak tebing menggarisbawahi kekhawatiran bahwa mungkin akan ada serangan lagi oleh Jemaah Islamiyah (JI), grup bayang-bayang yang dianggap bertanggung jawab atas bom, bagian dari jaringan teror Al-Qaeda.
Kerumunan itu membisu selagi seorang pendeta dari Angkatan Laut Australia maju untuk memimpin upacara peringatan tersebut, berdiri di depan patung megah Dewa Wisnu, sang pelindung. Upacara dimulai dengan lagu kebangsaan Indonesia dan Australia. Lalu 22 lilin dinyalakan di sebuah “kolam kenangan” sebagai lambang jumlah negara yang kehilangan warganya dalam bom Bali. Korban jiwa mencapai 202 orang. Di antara para pengunjung manca negara, Australia paling kehilangan dengan gugurnya 88 warga.
Kini, matahari tropis menghujam turun dari puncak bukit. Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia yang berpengaruh, Susilo Bambang Yudhoyono, maju dengan serius ke podium. Pada masa krisis, mantan jendral ini menebar aura kekuatan dan kepercayaan seorang orator sejati. (Bukan suatu yang mengherankan bahwa dalam kurun kurang dari setahun ia telah dipilih menjadi presiden Indonesia berikutnya). Pidato Yudhoyono menggetarkan hati mereka yang berduka, mengundang tangis, selagi ia bicara tentang begitu banyak jiwa yang dimusnahkan oleh tragedi biadab itu:
“Mereka putra-putri kita, ayah kita, ibu kita, saudara kita, sepupu kita, sahabat karib kita, pasangan hidup kita,” ungkapnya. “Dan mereka semua tak bersalah. Mereka semua punya rencana bahagia untuk menikmati esok di bawah sinar mentari. Mereka semua punya keluarga dan kampung halaman.”
Lalu Susilo Bambang Yudhoyono memberi peringatan pada para teroris: “Orang-orang biadab ini beserta rekanan mereka yang keji tak punya tempat dalam masyarakat kita. Mereka layak menghuni penjara tergelap kita, dikurung jauh dari tempat bermain anak-anak kita. Sejarah akan mengutuk mereka selamanya.”
Tepuk tangan spontan menyambut akhir pidato Yudhoyono. Kata-katanya menggetarkan relung hati, namun juga mengingatkanku bahwa di masa-masa sulit ini jarang ada tokoh politik yang memakai pidato untuk mengantar impian. Sebaliknya, mereka berjanji akan selamatkan kita dari mimpi buruk.
Upacara peringatan berlanjut dengan pembacaan nama-nama mereka yang berpulang, secara perlahan, satu demi satu. Perlu 15 menit – waktu yang cukup untuk menekankan kembali betapa besar tragedi itu. Ini merupakan bencana masa damai Australia yang paling berdarah – sebuah tindakan sebiadab serangan Al-Qaeda pada 11 September 2001, dan semua serangan pada mereka yang tak bersalah oleh bom bunuh diri di Israel, Irak dan di tempat-tempat lainnya.
Pada akhir upacara, kerabat dan teman korban menangis dan saling memeluk sambil meletakkan kembang kamboja di kolam kenangan sebagai tanda harapan dan awal baru. Gitaris John Williamson naik ke panggung dan memainkan Waltzing Matilda, lagu nasional tak-resmi Australia. Menghentikan langkah banyak di antara mereka yang berkabung. Lega rasanya mendengar suara sengau yang dikenal, dan merasakan suntikan semangat patriotik selagi setiap bait disampaikan. Aku terharu melihat mereka yang berusaha ikut bernyanyi dengan berlinang air mata, namun tak mampu karena sarat oleh duka. Kurasakan gemetar dingin, dan duka pekat yang sama ketika kehilangan yang tercinta.
Selagi mereka yang berkabung perlahan mengular keluar dari ampiteater, mereka berlalu di hadapan tembok yang dihiasi foto-foto orang tercinta; foto pernikahan pengantin muda yang disulap airbrush hingga sempurna, disandingi foto liburan asal-jepret pemuda-pemudi Australia yang hanya memakai kaos singlet dan kain sarung, yang mungkin diambil pada hari-hari menjelang ledakan-ledakan itu.
Kukenali sosok sayu Danny Hanley, seorang warga Australia yang telah menyampaikan elegi pada upacara peringatan tersebut. Ia memandangi foto-foto kedua putrinya Renae Anderson dan Simone Hanley, keduanya terbunuh dalam ledakan bom. Terpukau aku atas keberaniannya, membayangkan bagaimana ia mungkin menggalang keteguhan hati untuk hadir di Bali di waktu seperti ini.
“Aku tak akan kembali ke mari tapi aku harus hadir sekali ini untuk mengusir kegelapan,” tuturnya kemudian, suaranya bergetar. “Ini sangat penting, ini untuk kita semua, kau tahu, kembali ke mari saat ini, untuk upacara peringatan ini, akan membantu banyak anggota keluarga dan aku tahu akan membantuku.”
* * *
Setelah sepanjang hari mengenang para korban bom Bali, aku berdiri hening, dalam kegelapan tanah kosong tempat Sari Club dulu berdiri. Pukul 23.08, tepat setahun setelah bom terbesar meletus. Dari Australia, mereka yang selamat, keluarga korban, dan teman-teman mereka saling memeluk dan saling menyokong sembari menyampaikan pesan hormat mereka. Banyak yang menyalakan lilin, berdiri hening dalam kelompok-kelompok kecil di mana konon insan tercinta mereka hadir pada saat ledakan. Yang lainnya menyalakan api, menyulutnya dengan serpih-serpih kayu dari reruntuhan sekitar. Mereka memandangi lidah api, minum bir dan menyulangi teman-teman mereka yang telah berpulang.
“Hei, Bung, aku tahu kau mendengar. Aku merindukanmu!” ratap salah satu peminum sambil membuka satu botol lagi. Sebuah seru pilu yang ditujukan ke dunia fana.
Aku mengamati, di remang kelip nyala, mencoba mengukuhkan emosiku – mata jurnalistikku. Aku punya tenggat waktu. Aku perlu merekam wawancara dan menulis cerita radio sebelum fajar. Namun aku dihantui ratapan pemuda itu. Seperti tangis pilu yang sedemikian sering kudengar sebelumnya. Namun kali ini ia menyentuhku secara pribadi, dan aku bisa merasakan sakitnya, sungguh dalam di ulu hati.
[“Selamatkan Kami dari Mimpi Buruk” adalah cerita pendek pendamping buku pertama Mark Bowling “Running Amok – When Family and Foreign Affairs Collide”]
[Diterjemahkan oleh Kadek Krishna Adidharma]